Terima kasih kerana sudi menjengguk di sini. :)
Alhamdulillah, pada entri yang lepas - entri yang paling awal, saya ada kongsi tentang MAKSUD UKHUWAH dan jenis-jenisnya. Jika ada yang belum baca (mungkin anda pertama kali menjengguk disini- Selamat Datang!), boleh baca disini ya. Bagi yang dah baca, mudah-mudahan kalian diberi kefahaman yang berterusan untuk memahami perkara asas tentang ukhuwah. InsyaAllah.
Sejujurnya, bukan mudah nak faham secara praktikalnya berbanding teori. Tapi tak apa. Pelan-pelan hadam. Kunyah sampai lumat, kemudian baru telan. Baiklah, sekarang kita baca pula APAKAH PERINGKAT-PERINGKAT UKHUWAH DALAM ISLAM?
Ukhuwah dalam Islam mempunyai ciri-ciri yang jelas. Manakala
jalan menuju ukhuwah pula memiliki banyak peringkat atau tahapan. Seorang
muslim itu tidak akan mendapatkan ukhwah dengan saudaranya selagi mana ia tidak
melaluinya.
Jom, baca selanjutnya!
1. Ta’aruf
Kata ta’aruf bererti saling berkenalan sesama manusia,
seperti Ta’arrafu ila Fulan ertinya; ‘Saya memperkenalkan diri kepada si
Fulan.’ (Abdul halim M, 2000 : 30). Imam Ahmad
meriwayatkan dengan sanadnya dari Durrah binti Abi Lahab r.a. (isteri
Abdullah bin umar r.a.) berkata , “Seorang laki-laki menghadap Nabi SAW ketika
beliau berada diatas mimbar. Ia bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah manusia
yang paling baik? Beliau menjawab, ‘Manusia yang paling baik adalah yang paling
banyak membaca Al-Qur’an, bertanya kepada Allah SWT, memerintahkan yang ma’ruf,
mencegah kemungkaran, dan menyambung tali silaturrahim”.
Saling
mengenal diantara kaum muslimin merupakan simbol ketaatan kepada perintah Allah
SWT. Pada ayat berikut maksudnya: “Hai sekalian manusia, sesungguhnya kami
telah menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan dan kami jadikan kalian
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya
yang paling mulia di antara kamu disisi Allah adalah yang paling taqwa diantara
kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal”. [Qs Al Hujurat,
49 : 13]
Yang
demikian itu mengharuskan seorang muslim mengenal saudaranya seiman, namanya,
nasabnya, dan status sosialnya, bahkan ia harus mengetahui hal-hal yang disukai
dan tidak disukainya hingga dapat membantunya jika ia berbuat baik, memohonkan
ampun untuknya jika ia berdosa, mendoakan untuknya dengan kebaikan jika tidak
berada ditempat, dan mencintainya jika ia bertaubat. Dan semuanya itu adalah
hak-hak muslim atas saudaranya seiman sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ad-Dailami dalam al-Firdaus dengan sanadnya dari Anas r.a., Rasulullah SAW bersabda, “Empat hak orang muslim yang harus kau tunaikan , iatu
hendaklah engkau menolong orang yang berbuat baik, memintakan ampun bagi yang berbuat dosa,
mendo’akan kebaikan bagi yang berpisah, dan mencintai orang yang bertaubat
diantara mereka.”
Saling
mengenal diantara kamu ialah langkah pertama, dalam menuju terjalinnya ukhuwah
kerana Allah. Ia merupakan kunci pembuka hati, penjinak, dan penarik simpati.
Tahapan ta’aruf akan mengantarkan kepada tahapan berikutnya dalam menuju ukhuwah
islamiyah, iaitu ta’aluf.
.....................................................................
2. Ta’aluf
Ta’aluf bermaksud, bersatunya seorang muslim dengan
muslim yang lainnya, atau bersatunya individu dengan individu yang lain. Ta’aluf berasal dari kata ilf yang bermaksud persatuan. I’talafa an –nasu bermaksud orang
bersatu dan bersepakat.
Kata ulfah juga serupa dengan kata ilf yang memiliki makna kecintaan Allah
SWT kepada orang-orang yang beriman, yang mana Allah telah mempersatukan hati
mereka. Allah SWT berfirman:
“…Ingatlah akan nikmat Allah
kepada kalian ketika kalian dahulu dimasa jahiliyah bermusuh-musuhan, lalu
Allah mempersatukan hati kalian dan menjadikan kalian orang-orang yang
bersaudara kerana nikmatNya”.
[QS Ali Imran: 103]
“…Walaupun kalian membelanjakan semua
(kekayaan) yang berada dibumi, nescaya kalian tidak akan dapat mempersatukan
hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka…” [QS Al Anfal:
63]
Pada dasarnya kecintaan itu haruslah untuk Allah kerana
apabila seorang muslim memiliki sifat berlapang dada, bersih hatinya, dan taat
kepada Allah serta Rasulnya, dan merupakan sifat aslinya, maka ia akan bersatu,
mencintai, dan tertarik kepada keduanya. Hal ini sesuai dengan hadith yang
diriwayatkan Oleh Muslim dengan sanadnya dari Abu Hurairah r.a. Bahawa Rasulullah
SAW bersabda:
“Ruh-ruh itu ibarat
tentera-tentera yang tersusun, yang saling mengenal nescaya bersatu,
sedangkan yang tidak saling mengenal nescaya berpisah”.
Ketertarikan
dan saling mencintai adalah hasil dari wujudnya keserasian/kebersamaan antara
dua orang, sebagaimana perpisahan dan saling membenci adalah akibat dari
ketidaksesuaian. Dalam kedua keadaan itu, mencintai atau membenci tetaplah
harus kerana Allah.
Imam
Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya bahwa Rasulullah SAW, bersabda: “Orang mukmin itu mudah disatukan. Tidak ada
kebaikan bagi orang yang tidak menyatu dan tidak bisa mempersatukan.” [Imam
Ahmad dalam musnadnya, III/400, al-Halabi, Mesir, 1313 H]
Salah
satu kewajiban ukhuwah adalah, hendaknya seorang muslim menyatu dengan saudaranya
sesama muslim. Seiring dengan itu, hendaklah ia melakukan hal-hal yang mampu menyatukan
dirinya dengan saudaranya.
.....................................................................
3. Tafahum
Hendaklah terjalin sikap tafahum (saling memahami) antara seorang muslim dengan saudaranya
sesama muslim, ia dimulakan
dengan saling memahami bersama prinsip-prinsip asas ajaran Islam. Ia juga perlu
difahami dalam berhadapan dengan cabang-cabang permasalahan.
.....................................................................
4. Ri’ayah
dan Tafaqud
Pengertian
ri’ayah dan tafaqud adalah, hendaknya seorang muslim memperhatikan keadaan
saudaranya agar ia bersegera dalam memberikan pertolongan sebelum saudaranya tersebut
memintanya, kerana pertolongan itu merupakan salah satu hak saudaranya yang
harus ia tunaikan.
Teks
dalil tentang kewajiban memberikan perhatian adalah hadits yang diriwayatkan
oleh Bukhari dan Muslim dengan sanadnya dari Anas r.a. dari Nabi SAW beliau
bersabda: “Tidaklah beriman seseorang
dari kalian, sehingga ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai
untuk dirinya.”
Salah
satu bentuk perhatian adalah, hendaknya seorang muslim menutup aib saudara
muslimnya. Imam Muslim telah meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah r.a.
dari Nabi SAW beliau bersabda: “Tidaklah
seorang hamba menutup aib hamba yang lain kecuali Allah akan menutup aibnya
pada hari kiamat.”
Di
antara bentuk perhatian seorang muslim kepada saudara muslimnya adalah, hendaknya
ia berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan kecemasannya apabila sedang
ditimpa kecemasan, meringankan kesulitan yang dihadapinya, menutup aibnya, dan
membantunya dalam memenuhi kebutuhan.
Imam
Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi SAW.
beliau bersabda: “Barangsiapa
menghilangkan kesusahan seorang muslim, nescaya Allah akan menghilangkan satu
kesusahannya di hari kiamat. Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, nescaya
Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat. Allah selalu menolong seorang hamba
selama ia menolong saudaranya.”
.....................................................................
5. Ta’awun
Ta’awun bermaksud saling membantu.
Allah SWT telah memerintahkan hamba-hambanya yang beriman untuk bantu-membantu
dalam melaksanakan kebaikan, yang disebut dengan kata al birr, dan dalam perilaku meninggalkan kemungkaran yang disebut dengan kata at taqwa.
Adapun
yang mengatakan bahwa kata al-birr
meliputi hal-hal yang diwajibkan dan mandub
[sunnah] sedangkan at-taqwa bererti
menjaga kewajiban. Allah SWT melarang orang-orang beriman untuk saling membantu
dalam kebatilan dan perbuatan dosa.
Jenis-jenis
ta’awun yang dilaksanakan oleh
orang-orang yang berukhuwah dalam Islam banyak jumlahnya. Diantaranya:
– Ta’awun dalam memerintahkan yang ma’ruf, mengamalkan kebaikan, dan
melaksanakan ketaatan sesuai dengan petunjuk Islam, bahawa seperti yang
dikatakan sebaik-baik sahabat adalah yang mengingatkanmu apabila kamu lupa dan
membantumu apabila kamu ingat. Mentaati dan mendekatkan diri kepada Allah
merupakan amalan yang menyenangkan hati apabila terdapat sahabat dan orang yang
menolong.
– Ta’awun dalam meninggalkan kemungkaran,
hal yang diharamkan, dan bahkan yang makruh. Mencegah perbuatan munkar dan ta’awun dalam meninggalkannya merupakan
perilaku yang menyenangkan hati.
– Ta’awun dalam mendekatkan dan mendorong
manusia untuk berada di atas kebenaran, menghubungkan mereka dengan jalan
petunjuk, dan berupaya terus menerus untuk mengubah mereka dari suatu keadaan
kepada keadaan lain yang lebih diredhai Allah SWT. Ini merupakan amalan yang memerlukan
usaha dan dilakukan oleh lebih dari satu orang. Oleh kerana itu, ia harus ada ta’awun.
Amalan
ini, iaitu ta’awun adalah untuk
memberi petunjuk kepada orang muslim dan membawanya kepada jalan yang ditempuhi
oleh golongan yang mencari redha Allah dengan melaksanakan amal soleh, menurut
Islam, ianya lebih berharga daripada unta merah yang merupakan kenikmatan dunia
yang paling besar dan paling berharga.
Abu
Dawud telah meriwayatkan dengan sanadnya dari Sahl bin Sa’ad ra. dari Nabi SAW bersabda:
“Demi Allah, jika Allah memberikan
hidayah kepada seseorang kerana dakwah yang engkau sampaikan kepadanya, sungguh
hal itu lebih baik bagimu daripada unta merah.”
.....................................................................
6. Tanashur
Ia masih
sama seperti ta’awun, tetapi memiliki pengertian yang lebih mendalam, lebih
luas, dan lebih menggambarkan makna cinta dan kesetiaan. Tanashur melibatkan hubungan dua orang yang berukhuwah dalam Islam dan
ianya memiliki banyak makna, diantaranya:
- Seseorang tidak menjerumuskan saudaranya kepada sesuatu yang buruk atau dibenci, tidak pula membiarkannya tatkala ia meraih suatu kemaslahatan (keperluan) yang tidak membahayakan orang lain.
- Hendaklah seseorang mencegah saudaranya dan menolongnya dari syaitan yang membisikkan kejahatan kepadanya dan dari fikiran-fikiran buruk yang terlintas pada dirinya untuk menunda pelaksanaan amal kebaikan.
- Menolongnya menghadapi setiap orang yang menghalanginya dari jalan kebenaran, jalan hidayah, dan jalan dakwah.
-
Menolongnya, baik saat menzalimi mahupun saat dizalimi. Menolong saat menzalimi iaitu dengan cara mencegahnya dari perbuatan zalim, sedangkan menolongnya pada saat dizalimi adalah dengan berusaha menghindarinya dari kezaliman yang menimpanya.
Tidak
akan terjadi tanashur di antara
orang-orang yang bersaudara dalam Islam kecuali masing-masing bersedia
memberikan pengorbanan untuk saudaranya, baik pengorbanan waktu, tenaga, mahupun
harta.
Tanashur dengan makna sebagaimana yang telah
disebutkan di atas merupakan penekenan dari ta’awun
dan merupakan terjemahan nyata dari “ukhuwah dalam Islam”. Orang-orang yang
berukhuwah dan bertanashur dalam
kebenaran dan di atas kebenaran adalah paling layak mendapat redha, bantuan,
dan pertolongan Allah SWT, juga merupakan pertolongan kepada agamaNya beserta
kebenaran yang dibawanya. Allah SWT telah menjelaskan bahawa Dia pasti menolong
siapa saja yang menolongNya ketika berfirman: “Sesungguhnya Allah pasti benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.”
[QS Al-Hajj: 40]
[Sumber rujukan dan olahan bahasa (Indonesia - Melayu) daripada blog AlQuranmulia artikel Dr. Halim Mahmud dan blog Ahmad Muhasim]
Fuhh~~
Subhanallah. Panjang juga huraian tentang peringkat-peringkat ukhuwah ni yer.
Baru tau, rupa-rupanya makna ukhuwah ni besar cabangnya. Selama ini, kita hanya
tahu bertegur sapa, berkenalan, berborak-borak dan kemudian berjumpa lagi – ini
sudah cukup dikatakan berukhuwah. Jadi sekarang pengetahuan kita lebih meluas
lagi dengan memahami peringkat-peringkat ukhuwah dan perlaksanaannya.
InsyaAllah,
mudah-mudahan Allah beri kefahaman kepada kita.
Maka dengan ini,
berakhirlah serba sedikit perkongsian tentang Ukhuwah. Selepas ini, saya akan
kongsikan pula tentang Apa Itu Tarbiah? Tarbiah dan Ukhuwah, apa kaitannya?
Ada
kaitannya. Nanti saya ceritakan pada entri-entri yang akan datang. InsyaALLAH.
Tapi sebelum tu kita mesti fahami dulu apa maksud tarbiah? Okey ;)


No comments:
Post a Comment
Sudilah beri pandangan yang berhemah dan berhikmah :)