Saturday, May 14, 2016

U.K.H.U.W.A.H - Jom, kenal rapat lagi! (BAHAGIAN 2)





Assalamu'alaikum WBT  & Salam Sejahtera,


Terima kasih kerana sudi menjengguk di sini. :)
Alhamdulillah, pada entri yang lepas - entri yang paling awal, saya ada kongsi tentang MAKSUD UKHUWAH dan jenis-jenisnya. Jika ada yang belum baca (mungkin anda pertama kali menjengguk disini- Selamat Datang!), boleh baca disini ya. Bagi yang dah baca, mudah-mudahan kalian diberi kefahaman yang berterusan untuk memahami perkara asas tentang ukhuwah. InsyaAllah.

Sejujurnya, bukan mudah nak faham secara praktikalnya berbanding teori. Tapi tak apa. Pelan-pelan hadam. Kunyah sampai lumat, kemudian baru telan. Baiklah, sekarang kita baca pula APAKAH PERINGKAT-PERINGKAT UKHUWAH DALAM ISLAM?

Ukhuwah dalam Islam mempunyai ciri-ciri yang jelas. Manakala jalan menuju ukhuwah pula memiliki banyak peringkat atau tahapan. Seorang muslim itu tidak akan mendapatkan ukhwah dengan saudaranya selagi mana ia tidak melaluinya.

Jom, baca selanjutnya!



1. Ta’aruf

Kata ta’aruf  bererti saling berkenalan sesama manusia, seperti   Ta’arrafu ila Fulan ertinya; ‘Saya memperkenalkan diri kepada si Fulan.’ (Abdul halim M, 2000 : 30). Imam Ahmad  meriwayatkan dengan sanadnya dari Durrah binti Abi Lahab r.a. (isteri Abdullah bin umar r.a.) berkata , “Seorang laki-laki menghadap Nabi SAW ketika beliau berada diatas mimbar. Ia bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling baik? Beliau menjawab, ‘Manusia yang paling baik adalah yang paling banyak membaca Al-Qur’an, bertanya kepada Allah SWT, memerintahkan yang ma’ruf, mencegah kemungkaran, dan menyambung tali silaturrahim”.

Saling mengenal diantara kaum muslimin merupakan simbol ketaatan kepada perintah Allah SWT. Pada ayat berikut maksudnya: “Hai sekalian manusia, sesungguhnya kami telah menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan dan kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu disisi Allah adalah yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal”. [Qs Al Hujurat, 49 : 13]

Yang demikian itu mengharuskan seorang muslim mengenal saudaranya seiman, namanya, nasabnya, dan status sosialnya, bahkan ia harus mengetahui hal-hal yang disukai dan tidak disukainya hingga dapat membantunya jika ia berbuat baik, memohonkan ampun untuknya jika ia berdosa, mendoakan untuknya dengan kebaikan jika tidak berada ditempat, dan mencintainya jika ia bertaubat. Dan semuanya itu adalah hak-hak muslim atas saudaranya seiman sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ad-Dailami dalam al-Firdaus dengan sanadnya dari Anas r.a., Rasulullah SAW bersabda, “Empat hak orang muslim yang harus kau tunaikan , iatu hendaklah engkau menolong orang yang berbuat baik,  memintakan ampun bagi yang berbuat dosa, mendo’akan kebaikan bagi yang berpisah, dan mencintai orang yang bertaubat diantara mereka.”


Saling mengenal diantara kamu ialah langkah pertama, dalam menuju terjalinnya ukhuwah kerana Allah. Ia merupakan kunci pembuka hati, penjinak, dan penarik simpati. Tahapan ta’aruf akan mengantarkan kepada tahapan berikutnya dalam menuju ukhuwah islamiyah, iaitu ta’aluf.


.....................................................................


2. Ta’aluf

Ta’aluf  bermaksud, bersatunya seorang muslim dengan muslim yang lainnya, atau bersatunya individu dengan individu yang lain. Ta’aluf berasal dari kata ilf yang bermaksud persatuan. I’talafa an –nasu bermaksud orang bersatu dan bersepakat.

Kata ulfah juga serupa dengan kata ilf yang memiliki makna kecintaan Allah SWT kepada orang-orang yang beriman, yang mana Allah telah mempersatukan hati mereka. Allah SWT berfirman:

“…Ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu dimasa jahiliyah bermusuh-musuhan, lalu Allah mempersatukan hati kalian dan menjadikan kalian orang-orang yang bersaudara kerana nikmatNya”. [QS Ali Imran: 103]

…Walaupun kalian membelanjakan semua (kekayaan) yang berada dibumi, nescaya kalian tidak akan dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka…” [QS Al Anfal: 63]

Pada  dasarnya kecintaan itu haruslah untuk Allah kerana apabila seorang muslim memiliki sifat berlapang dada, bersih hatinya, dan taat kepada Allah serta Rasulnya, dan merupakan sifat aslinya, maka ia akan bersatu, mencintai, dan tertarik kepada keduanya. Hal ini sesuai dengan hadith yang diriwayatkan Oleh Muslim dengan sanadnya dari Abu Hurairah r.a. Bahawa Rasulullah SAW bersabda:

“Ruh-ruh itu ibarat tentera-tentera yang tersusun, yang saling mengenal nescaya bersatu, sedangkan yang tidak saling mengenal nescaya berpisah”.

Ketertarikan dan saling mencintai adalah hasil dari wujudnya keserasian/kebersamaan antara dua orang, sebagaimana perpisahan dan saling membenci adalah akibat dari ketidaksesuaian. Dalam kedua keadaan itu, mencintai atau membenci tetaplah harus kerana Allah.

Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya bahwa Rasulullah SAW, bersabda: “Orang mukmin itu mudah disatukan. Tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak menyatu dan tidak bisa mempersatukan.” [Imam Ahmad dalam musnadnya, III/400, al-Halabi, Mesir, 1313 H]

Salah satu kewajiban ukhuwah adalah, hendaknya seorang muslim menyatu dengan saudaranya sesama muslim. Seiring dengan itu, hendaklah ia melakukan hal-hal yang mampu menyatukan dirinya dengan saudaranya.

.....................................................................


3. Tafahum

Hendaklah terjalin sikap tafahum (saling memahami)  antara seorang muslim dengan saudaranya sesama muslim, ia dimulakan dengan saling memahami bersama prinsip-prinsip asas ajaran Islam. Ia juga perlu difahami dalam berhadapan dengan cabang-cabang permasalahan. 


.....................................................................


4. Ri’ayah dan Tafaqud

Pengertian ri’ayah dan tafaqud adalah, hendaknya seorang muslim memperhatikan keadaan saudaranya agar ia bersegera dalam memberikan pertolongan sebelum saudaranya tersebut memintanya, kerana pertolongan itu merupakan salah satu hak saudaranya yang harus ia tunaikan.

Teks dalil tentang kewajiban memberikan perhatian adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dengan sanadnya dari Anas r.a. dari Nabi SAW beliau bersabda: “Tidaklah beriman seseorang dari kalian, sehingga ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya.”

Salah satu bentuk perhatian adalah, hendaknya seorang muslim menutup aib saudara muslimnya. Imam Muslim telah meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi SAW beliau bersabda: “Tidaklah seorang hamba menutup aib hamba yang lain kecuali Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat.”

Di antara bentuk perhatian seorang muslim kepada saudara muslimnya adalah, hendaknya ia berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan kecemasannya apabila sedang ditimpa kecemasan, meringankan kesulitan yang dihadapinya, menutup aibnya, dan membantunya dalam memenuhi kebutuhan.

Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi SAW. beliau bersabda: “Barangsiapa menghilangkan kesusahan seorang muslim, nescaya Allah akan menghilangkan satu kesusahannya di hari kiamat. Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, nescaya Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat. Allah selalu menolong seorang hamba selama ia menolong saudaranya.”


.....................................................................


5. Ta’awun

Ta’awun bermaksud saling membantu. Allah SWT telah memerintahkan hamba-hambanya yang beriman untuk bantu-membantu dalam melaksanakan kebaikan, yang disebut dengan kata al birr, dan dalam perilaku meninggalkan  kemungkaran yang disebut dengan kata at taqwa.

Adapun yang mengatakan bahwa kata al-birr meliputi hal-hal yang diwajibkan dan mandub [sunnah] sedangkan at-taqwa bererti menjaga kewajiban. Allah SWT melarang orang-orang beriman untuk saling membantu dalam kebatilan dan perbuatan dosa.

Jenis-jenis ta’awun yang dilaksanakan oleh orang-orang yang berukhuwah dalam Islam banyak jumlahnya. Diantaranya:

Ta’awun dalam memerintahkan yang ma’ruf, mengamalkan kebaikan, dan melaksanakan ketaatan sesuai dengan petunjuk Islam, bahawa seperti yang dikatakan sebaik-baik sahabat adalah yang mengingatkanmu apabila kamu lupa dan membantumu apabila kamu ingat. Mentaati dan mendekatkan diri kepada Allah merupakan amalan yang menyenangkan hati apabila terdapat sahabat dan orang yang menolong.

Ta’awun dalam meninggalkan kemungkaran, hal yang diharamkan, dan bahkan yang makruh. Mencegah perbuatan munkar dan ta’awun dalam meninggalkannya merupakan perilaku yang menyenangkan hati.

Ta’awun dalam mendekatkan dan mendorong manusia untuk berada di atas kebenaran, menghubungkan mereka dengan jalan petunjuk, dan berupaya terus menerus untuk mengubah mereka dari suatu keadaan kepada keadaan lain yang lebih diredhai Allah SWT. Ini merupakan amalan yang memerlukan usaha dan dilakukan oleh lebih dari satu orang. Oleh kerana itu, ia harus ada ta’awun.

Amalan ini, iaitu ta’awun adalah untuk memberi petunjuk kepada orang muslim dan membawanya kepada jalan yang ditempuhi oleh golongan yang mencari redha Allah dengan melaksanakan amal soleh, menurut Islam, ianya lebih berharga daripada unta merah yang merupakan kenikmatan dunia yang paling besar dan paling berharga.

Abu Dawud telah meriwayatkan dengan sanadnya dari Sahl bin Sa’ad ra. dari Nabi SAW bersabda: “Demi Allah, jika Allah memberikan hidayah kepada seseorang kerana dakwah yang engkau sampaikan kepadanya, sungguh hal itu lebih baik bagimu daripada unta merah.”


.....................................................................


6.  Tanashur

Ia masih sama seperti  ta’awun, tetapi memiliki pengertian yang lebih mendalam, lebih luas, dan lebih menggambarkan makna cinta dan kesetiaan. Tanashur melibatkan hubungan dua orang yang berukhuwah dalam Islam dan ianya memiliki banyak makna, diantaranya:


  • Seseorang tidak menjerumuskan saudaranya kepada sesuatu yang buruk atau dibenci, tidak pula membiarkannya tatkala ia meraih suatu kemaslahatan (keperluan) yang tidak membahayakan orang lain.
  • Hendaklah seseorang mencegah saudaranya dan menolongnya dari syaitan yang membisikkan kejahatan kepadanya dan dari fikiran-fikiran buruk yang terlintas pada dirinya untuk menunda pelaksanaan amal kebaikan.
  • Menolongnya menghadapi setiap orang yang menghalanginya dari jalan kebenaran, jalan hidayah, dan jalan dakwah.
  • Menolongnya, baik saat menzalimi mahupun saat dizalimi. Menolong saat menzalimi iaitu dengan cara mencegahnya dari perbuatan zalim, sedangkan menolongnya pada saat dizalimi adalah dengan berusaha menghindarinya dari kezaliman yang menimpanya.

Tidak akan terjadi tanashur di antara orang-orang yang bersaudara dalam Islam kecuali masing-masing bersedia memberikan pengorbanan untuk saudaranya, baik pengorbanan waktu, tenaga, mahupun harta.

Tanashur dengan makna sebagaimana yang telah disebutkan di atas merupakan penekenan dari ta’awun dan merupakan terjemahan nyata dari “ukhuwah dalam Islam”. Orang-orang yang berukhuwah dan bertanashur dalam kebenaran dan di atas kebenaran adalah paling layak mendapat redha, bantuan, dan pertolongan Allah SWT, juga merupakan pertolongan kepada agamaNya beserta kebenaran yang dibawanya. Allah SWT telah menjelaskan bahawa Dia pasti menolong siapa saja yang menolongNya ketika berfirman: “Sesungguhnya Allah pasti benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” [QS Al-Hajj: 40]



[Sumber rujukan dan olahan bahasa (Indonesia - Melayu) daripada blog AlQuranmulia artikel Dr. Halim Mahmud dan blog Ahmad Muhasim]


Fuhh~~ Subhanallah. Panjang juga huraian tentang peringkat-peringkat ukhuwah ni yer. Baru tau, rupa-rupanya makna ukhuwah ni besar cabangnya. Selama ini, kita hanya tahu bertegur sapa, berkenalan, berborak-borak dan kemudian berjumpa lagi – ini sudah cukup dikatakan berukhuwah. Jadi sekarang pengetahuan kita lebih meluas lagi dengan memahami peringkat-peringkat ukhuwah dan perlaksanaannya.

InsyaAllah, mudah-mudahan Allah beri kefahaman kepada kita.

Maka dengan ini, berakhirlah serba sedikit perkongsian tentang Ukhuwah. Selepas ini, saya akan kongsikan pula tentang Apa Itu Tarbiah? Tarbiah dan Ukhuwah, apa kaitannya?

Ada kaitannya. Nanti saya ceritakan pada entri-entri yang akan datang. InsyaALLAH. Tapi sebelum tu kita mesti fahami dulu apa maksud tarbiah? Okey ;)



No comments:

Post a Comment

Sudilah beri pandangan yang berhemah dan berhikmah :)